Sidak Mendadak Untung Menangani Banjir Aceh Utara di BPBD
By -
September 02, 2023
0
Sidak Mendadak Untung Menangani Banjir Aceh Utara di BPBD
Oleh: Halim El Bambi | Penulis Pribadi Untung Sangaji
Tidak seperti biasanya, 10 Agustus 2023, Pukul 11.56.WIB, saya dan Ir. H. Ahmad Untung Surianata, MH atau dikenal Untung Sangaji, mantan Kapolres Aceh Utara 2016-2018 yang sedang maju sebagai Caleg DPR Aceh dari Partai NasDem Aceh Utara tidak ditemani Bpk Ridwan, sang sopir yang selama beberapa bulan Untung kembali di Aceh dari Papua Selatan, ia rajin membawanya kesana-kemari menjumpai rakyat.
Ridwan ada tugas mendadak ke Banda Aceh. Sedari semalam, ia sudah harus tancap gas bersama avanza putih miliknya, kembali ke Kutaradja, mengambil sebuah 'kotak doraemon' yang tertinggal, sehari sebelumnya. Itu tugas yang 'wajib' sukses di emban.
Tinggallah kami berdua. Sebuah sepmor Honda Beat menjadi alat transportasi darurat.
Pantonlabu, pagi jelang siang itu, tiba-tiba cuaca berubah dari cerah menjadi mendung. Untung selalu mengingatkan saya kalau iklim alam cepat berubah. Kini tiba-tiba mendung.
Kala mendung itu pula, otaknya langsung berputar cepat; ia membayangkan betapa buruknya situasi ibukota Aceh Utara bila hujan terus menerus membasahi bumi Pasee. Lhoksukon sebagai ibukota, bisa langsung kebanjiran besar lagi. Itu siklus yang selalu menghantui dirinya, pun juga warga Lhoksukon, pastinya.
"Jangan-jangan Lhoksukon kembali kebanjiran". ia bergumam sendiri. Namun dengan jelas kuping ku mendengar bisikannya itu tanpa perlu nguping. Maklum saja, ia sosok mantan militer, jadi suaranya tak pernah bisa berbisik. Meski berbisik, tetap saja kedengaran membahana. Belum lagi kalau merepet-repet tak tentu ke siapa diarahkan. Bisa-bisa yang mendengar akan menutup kuping rapat-rapat, sambil menahan dongkol.
Ia mengingatkan aku untuk mencari alamat kantor BPBD (Badan Penangulangan Bencana Daerah), begitu kepanjangannya. Sebuah institusi yang wajib tampil terdepan sebagai 'penyelamat' apabila terjadinya bencana alam.
Beruntung, alamat yang ia inginkan cepat saja saya dapatkan. Kantor BPBD tepat berada didepan hidung kantor Bupati Aceh Utara yang megah itu. Megah kantornya, tapi miskin perhatian pada rakyatnya. Saya berterima kasih kepada mbah google yang selalu sigap menunjukkan alamat. Sehingga Bang Untung (biasa begitu saya panggil) tak jadi ngedumel kalau sesuatu yang diminta gagal maning.
Maka tak menunggu peluit berbunti, saya langsung memegang stir honda beat. Untung duduk dibelakang, sambil mengenakan kacamata hitam kesayangannya yang pernah ia pakai saat bertugas di Sarajevo, beberapa tahun silam. Kami langsung tancap gas ke Landing, area perkantoran mewah di Aceh Utara, tempat dimana kantor BPBD bermarkas, didepan kantor Bupati.
Selama dalam perjalanan itu, jujur saja, ada rasa bangga juga bergelayut dihati. Sosok beken yang dikenal secara internasional paska penumpasan kriminil bom Sarinah dan mantan Kapolres pula, kini sedang berada persis dibelakang kemudi saya, sebagai penumpang motor. Tentu, sebagai mantan Kapolres, Untung tetap waspada sepanjang perjalanan saya menggeber motor ke landing. Sesekali ia membanting badanya ke kiri, apabila laju kendaraan yang saya bawa terasa agak kencang. Itu kodenya agar laju diperlambat sedikit, dan saya cepat memahaminya.
Tepat pukul 12: 40 wib, artinya 25 menit perjalanan dari Pantonlabu ke Landing, kami pun sampai di kantor BPBD yang ia maksud. Lumayan cepat juga sampainya, gumamnya, ia menyebut saya bak seorang rider motogp saat mengendarai honda beat itu. Lincah tapi tetap hati-hati bin waspada.
Halaman kantor ini terbilang luas. Rerumputan tumbuh tak terurus. Pagar kantor ibarat pagar darurat. Kondisi bangunan kantor terbilang kusam, namun tertutupi dengan cat warna orange, warna khusus BPBD. Tapi, cat itu pun tak mampu menutupi kalau kantor ini ibarat tak terurus. Cat mengelupas dimana-mana. Masuk kedalam, ruangan yang di cat putih tak mampu memberikan pandangan yang cerah. Nuansa kusam dimana-mana. Masuk sedikit lagi, dekorasi ruangan jauh dari kata artistik. Papan peta titik-titik rawan bencana serupa banjir tak tampak, sebagaimana yang diinginkan Untung saat itu. ia tambah gundah....
Tanpa pikir panjang ia mencegat seorang staf yang tak mengenal dirinya dan menanyakan dimana ruang kepala BPBD.
Tiba-tiba seorang lelaki dengan celana tergulung dan memakai sandil jepit swallow menyapanya... "Oh Pak Untung, bapak Kapolres, dulu ya?" tanyanya kaget.
"Yoo. yooo...dimana ruangan bapak kepala, yo, boleh ketemu?" tanya balik Untung kepada si staf tadi yang mulai panik.
'Maaf, Pak ! Bapak kepala lagi tidak ada di kantor, ada urusan keluarga ..." terangnya sambil mangut-mangut.
"kalau staf lain ada nggak yang bisa saya minta peta titik banjir di Aceh Utara, kok peta itu tak ada di papan besar di ruang depan, ya? Kok bisa tak ada, toh?" tanya Untung lagi, kali ini dengan nada agak sedikit geram. Staf itu tak bisa menunjukkan papan peta yang diinginkan Untung. Agak gusar, Untung lalu meminta dirinya bertemu dengan kabid siapa saja yang ada. Lalu tak lama ia dipertemukan dengan seorang Kabid disebuah ruangan yang sama dengan staf yang memakai sandal jepit itu.
"Salam alaikum, berkenan kita berdiskusi sejenak, kah? " timpal Untung tergesa.
"Boleh, Bapak. Ini Bapak Untung, kalau tidak salah?"
"Ya, benar, boleh minta tolong, toh? Ini kita sedang pikir bagaimana ambil ancang-ancang penanganan banjir. Apalagi kita diambang akhir tahun hanya beberapa bulan saja kedepan. Boleh saya minta peta titik rawan banjir, tidak, ya ?" kembali Untung bertanya ke sekian kali mengenai peta yang dia inginkan. Namun Kabid --yang katanya tidak sedang menangani masalah titik banjir itu-- hanya berkata kalau dirinya tak memahami masalah peta, karena baru saja bekerja disitu setahun yang lalu.
Untung garuk-garuk kepala. Baru kerja disitu setahun lebih lalu, tapi tak tau tupoksi bicara penanganan banjir. Ada raut kecewa terlintas dari wajahnya. Lalu ia mengajak kedua karyawan tersebut ke serambi depan. Ia memberikan saran kalau kantor sekelas BPBD itu wajib punya papan peta titik rawan bencana di Aceh Utara, tujuannya adalah agar apabila terjadi banjir, segala hal bisa diarahkan pada peta. baginya peta adalah kunci reaksi cepat penanganan bencana. Tanpa peta, ibarat orang buta meraba-raba. Penjelasan Untung terus mendapat anggukan kepala kedua staf tersebut.
Kemudian Untung juga minta dirinya ditunjukkan sarana prasarana (alat) penanganan bencana. Kedua karyawan itu lalu membawa Untung ke belakang kantor. Disana ia sudah diarahkan pada sebuah boat fiberglass yang tertambah sudah cukup lama di garasi. Untung masih belum puas. Ia masih menanyakan, mengapa boat itu tak memiliki jok yang empuk. Lalu ia menyanggupi akan membantu membuatkan jok denga kocek pribadinya. Kedua karyawan sumringah, bercampur bangga. Awalya tampak tegang, namun ketika Untung mulai membuka diri, berdiskusi dan menyanggupi membantu BPBD sesuai kemampuannya, hal itu disambut suka cita kedua karyawan yang tadinya tertekan kini berubah penuh senyuman.
Dalam sejarahnya, belum ada Caleg (calon legislatif) yang berani saja melakukan kunjungan ala sidak ke sebuah kantor dinas, lalu menanyakan ini-itu, sejauhmana kesiapan dan lain sebagainya, padahal belum terpilih. Tentu terasa agak 'lancang'. Tapi bagi Untung, yang sangat memahami kondisi psikologis dan sosiologis Aceh Utara dengan segala dinamikanya itu, melakukan sidak lalu bertanya untuk mencari solusi kebaikan ummat adalah gaya dirinya yang bukan dibuat-buat. Ia melakukan itu karena punya satu alasan yang kuat, yaitu menyelamatkan nyawa dan harta benda rakyat !
Cerita Untung menerjang banjir bersama jetski, menerabas puing-puing bekas banjir pada masa dirinya menjabat kapolres Aceh Utara 2016-2018 bukan sebuah dongeng. 2 buah jetski milik pribadinya pernah ia jual dengan harga ratusan juta rupiah. uang hasil penjualan 2 jetski itu lalu ia pakai buat memborong sembako di beberapa ruko untuk selanjutnya ia bagi-bagikan kepada korban banjir besar Lhoksukon, yang banjirnya itu selalu diliput media nasional. Maklum saja, selama beberapa tahun belakang, semenjak ia menjabat Kapolres dan, debit banjir bukanya bertambah surut, malah semakin menggila. Bayangkan saja, air banjir bukan hanya menenggelamkan persawahan dan hewan ternak, tapi tingginya ikut menutupi bubung atap rumah warga ! Betapa parahnya Lhoksukon yang tiap tahun selalu dihantam bencana banjir dan tiap tahun itu pula, disusul 'banjir' pegungsian manusia.
Reaksi cepat Untung saat menangani korban banjir Lhoksukon ini pula, ia pun mendapat julukan 'Polisi serasa Bupati'.
"Tapi saya tak suka julukan itu. Jiwa saya itu murni membantu, bukan mencari muka dan malah dijuluki serasa bupati, enggak, saya enggak mau begitu. Saya nggak mau melukai perasaan para pihak lain yang seharusnya tupoksi dia menangani banjir. Saya waktu itu hanya Kapolres, tidak lebih Kapolres. Karena jiwa saya itu memang cepat tergerak, maka saya bantu apa yang bisa saya bantu selaku manusia. Sebab ada bupati yang itu tupoksinya." ungkapnya kepada saya dengan mimik jujur.
Demi melihat masalah banjir yang selalu meluluh-lantakkan Lhoksukon selaku ibukota Aceh Utara, Untung, yang paska purna tugas dan kini maju sebagai Caleg DPRA 2024, bertekad terus berjuang hingga ke tingkat legislatif supaya kerja-kerja penanganan banjir lebih leluasa ia upayakan.
"Doakan saya. Niat saya itu membantu, tak lebih dari itu. Kalau saya mau berleha-leha paska pensiun, menikmati purna tugas, ya untuk apa saya kembali ke Aceh Utara yang banyak hal harus dibenahi ini, itu semua demi memenuhi permintaan bapak Surya Paloh yang didesak konstituen (rakyat) agar saya maju saja ke DPRA agar memudahkan saya membantu rakyat dengan legislasi dan program-program po rakyat yang sudah saya konsep sebelumnya." ucap Untung tanpa tedeng aling-aling.
Ia juga memaparkan berbagai solusi penanganan banjir preventif agar saat air banjir melanda, harus ada sekat-sekat pemecah banjir agar tidak langsung 'tumplek' ke pemukiman warga. Dia komit di gedung legislatif akan terus berjuang menangani banjir dari segala dinamika yang ada.
Setelah nyaris 2 jam lebih ia berbincang dengan kedua staf BPBD itu tanpa sang kepala kantor, Untung meminta maaf lalu pamitan pulang ke Seunuddon, tempat domisilinya. Disana, bibit-bibit tanaman buah sudah menanti sentuhannya. Ia getol menanam pohon untuk generasi masa depan, katanya. | Halim El Bambi | Myhelb Membaca Zaman | AllRights Reserved
Tags:





