MYHELB - BANTAYAN | Laut Aceh Utara menyimpan kekayaan ikan yang melimpah. Lantas, bila dikaitkan dengan sektor ekonomi kelautan dan perikanan Indonesia yang kedepannya ditarget mampu mencapai 1300 triliun per tahun, baik dari sektor perikanan, pariwisata bahari, biofarmasitika laut, energi terbarukan, transportasi laut, minyak bumi dan gas lepas pantai, mineral di dasar laut, industri jasa maritim, dan garam industri, maka potensi laut Aceh Utara, bisa digenjot lebih maksimal lagi.
Lalu, bagaimana caranya mengenjot perikanan Aceh Utara kearah yang lebih baik kedepan?
Salah satu cara adalah dengan mengembangkan perikanan laut dengan cara 'Offshore Aquaculture' atau budidaya perikanan lepas pantai yang dilakukan pada jarak tertentu dari pantai.
Menurut Ir Untung Sangaji MH, mantan Kapolres Aceh Utara era 2016, yang juga motor penggerak wisata pantai Bantayan, Seunuddon, metode 'OA' adalah jawaban Indonesia surplus ikan. OE sendiri memerlukan teknologi tinggi dan investasi yang besar. Untuk menggerakkan OE, butuh sebuah perusahaan besar yang mampu dan berani masuk ke bisnis ini. "Aceh Utara harus mengambil porsi ini." Ujar Direktur USAINS Institute, saat bincang-bincang dengan Halim El Bambi dari Myhelb Membaca Zaman, Rabu (5/7).
Untung Sangaji menyebut, dengan adanya perkembangan zaman yang terus moderen, OA menjadi jawaban untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan di negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, Asia Timur bahkan Cina, permintaan produk ikan terus melonjak naik.
"Pada tahun-tahun kedepan 2040, penduduk bumi bisa melonjak mencapai 8 milyar jiwa lebih. Kebutuhan akan protein tidak akan terpenuhi dari hewan berkaki atau perikanan tangkap saja. Harus digenjot lagi dari sektor perikanan skala besar yang digerakkan perusahaan profesional." tambahnya lagi.
Menurut terbitan ilmiah Budi Prasetyo dari Jurusanku, AO sendiri adalah sebuah sistem beternak ikan ala tambak, namun prosesnya melibatkan teknologi tinggi, berbagai ilmu pengetahuan bertemu di sini. Selain ilmu tentang ikan, penyakit dan makanannya, diperlukan juga ilmu kelautan, klimatologi, lingkungan hidup, dan keteknikan (engineering).
Mengapa perlu ilmu keteknikan? "Keramba jaring apung yang digunakan tidak saja harus berukuran raksasa, tetapi juga harus tahan terhadap gelombang samudera dan terjangan ikan berukuran besar. Keramba tradisional dari bambu jelas tidak memenuhi syarat untuk teknologi ini." (BP).
Sementara itu, data dari Kementerian Kelautan dan Perkanan 2011, potensi budidaya perikanan masih belum tergarap. Dari potensi produksi 57,7 juta ton/tahun yang terlaksana hanya 7,9 juta ton di tahun 2011.
Dari semua potensi ini, peluang terbesar ada pada budidaya ikan di laut. Lahan yang cocok untuk budidaya di laut di Indonesia 12,1 juta hektar. Faktanya, ikan yang dihasilkan baru 1 persennya saja . Sebesar 99 persen budidaya laut diperoleh dari rumput laut, sebagaimana disitat SWA 07 XXXI 2 April 2015 – 15 April 2015.
Menyadari dahsyatnya peluang ini, Ir Untung Sangaji MH, selepas purna tugas dari kepolisian RI, dirinya siap berkomitmen mencari cara untuk memajukan sektor perikanan Aceh Utara yang saat ini sedang mati suri.
Ragam konsep pembangunan sektor perikanan laut, wisata, enterpreneur, pemuda dan olahraga bagi warga Aceh Utara sedang ia siapkan dan siap ia implementasikan secara nyata. Tujuanya sangat jelas, ia ingin melihat perekonomian dan pembangunan di Kabupaten Aceh Utara berjalan dan memberi dampak positif bagi peningkatan ekonomi rakyat. | Halim El Bambi | Myhelb Membaca Zaman
Photo : Ocean Farm Technologies


