UPAYA LUAR BIASA POLISI INI GERAKKAN PROGRAM ‘PENGENTASAN KEMISKINAN’
Melalui Sterilisasi Air Laut Keruh/Kotor Bernilai Ekonomis Tinggi Bagi Warga Miskin
Oleh: Halim El Bambi | Myhelb Mambaca Zaman | myhelb.blogspot.com
Baru kali ini saya melihat sepakterjang seorang polisi yang memiliki pemahaman serba bisa. Selain cakap memegang pistol, menjaga keamanan hingga menumpas para kriminil yang menyusahkan rakyat, sepakterjang AKBP Ir Untung Sangaji MH justru lebih dari sosok polisi.
Bahkan yang luar biasanya lagi, ia tampil sebagai penggerak (pionir) ditengah-tengah masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari kebiasaannya masuk ke pelosok-pelosok desa hanya ingin menjenguk warga dan menanyakan apa yang menjadi kebutuhan warga tersebut. Lalu Bang Aji atau Bang Untung--biasa sapaan akrabnya-- tidak hanya sekedar bertanya atau wara-wiri, ia pun memberikan ragam solusi nyata dan langsung menyentuh masalah. Penguasaan ilmu kerajinan tangan, ilmu sterilisasi air, perikanan, perkebunan, perbataan (membuat batu bata dari sedimen lumpur limpahan banjir) dan seabrek ilmu bermamfaat lainya, ia salurkan buat kepentingan menggerakkan ekonomi warga miskin.
Kombinasi kepedulian, penguasaan ilmu, keberanian dan ketegasan, sense of humanity yang terpatri dalam jiwanya, menjadikan sosok Bang Aji sangat dicintai masyarakat kalangan bawah hingga menengah keatas. Tak terhitung sudah berapa banyak kegiatan pelatihan ketrampilan dan pengayoman telah ia lakukan langsung ditengah-tengah kehidupan masyarakat desa/kota miskin.
Misalnya ia didapati sudah berada disebuah desa kumuh menyumbang sumur bor. Lain hari ia sudah diantara para nelayan miskin memberikan pelatihan bagaimana menernakkan ikan bandeng buat presto, atau bagaimana cara membesarkan ikan bawal yang bernilai ekonomis tinggi dipasaran.
Dilain waktu, misalnya ketika ia menjabat Kapolres Aceh Utara era 2016, Bang Aji sudah berada di pantai laut Seunuddon. Ia sibuk mengamai kesana kemari. Matanya yang bak elang mau menangkap mangsa itu nyalang entah kemana-mana. Kancing bajunya terbuka, tanda suhu mencapai puncak ke otak. Tapi ia tak bergeming. Sejurus kemudian ia menelepon anak buahnya di mako. Tak lupa juga ia menghubungi tokoh-tokoh masyarakat sebagai bentuk mnta izin -- dan bila sekaligius mau saja bersaam dirinya bergerak melakukan gotroy, baginya satu bonus tersendiri-- Lalu ia menggerakkan aksi pembersihan dan pembenahan pantai tanpa kenal lelah.
Jadilah pantai Bantayan di Seunuddon, Aceh Utara itu yang semula berupa pantai kusut, kumuh, kotor, sampah dimana-mana, kini ia sulap menjadi pantai viral tujuan wisata terkemuka di Aceh Utara. ia tampil sebagai pionir melakukan perubahan ! Pencitraankah? Bukan ! Sama sekali bukan sebuah pencitraan, itu adalah fakta bahwa DNA seorang Bang Aji memang penggerak, pelopor, bukan pembual, apalagi 'tukang peh tem' pengumbar janji. Ia tak kenal kamus basa-basi apalagi janji punguk merindu bulan. Ia orangnya suka yang real, meski dimulai dari hal-hal yang sederhana sekalipun, namun hal itu menjadikan ia bangga dan puas hati.
Kecintaan Bang Aji kepada Aceh Utara tak perlu ditanyakan lagi. Bahkan ia selalu berdoa, bila diberi kesehatan dan umur panjang oleh Yang Kuasa, ia bertekad membangun sektor perikanan Aceh Utara dengan cara yang unik dan bahkan belum ada yang pikir sebelumnya.
Dalam bincang-bincang panjang dengan saya via telepon selluler--maklum bang Aji saat ini masih berdedikasi di tanah Papua, meski sudah dipenghujung purna bakti-- tapi ia masih saja berpikir bagaimana memajukan Aceh Utara dari sektor perikanan, selain sektor pengurangan angka kemiskinan dll.
Ia bercerita kalau Aceh Utara itu sangat potensial dikembangkan sektor perikanan. "Aceh Utara itu kaya SDA-nya, terutama kita bisa kembangkan perikanan laut yang airnya langsung saya sterilisasi apabila disebuah pantai tempat basis perikanan itu kotor atau keruh. Selain bisa membuat pantai menjadi bersih, air itu bisa kita mamfaatkan buat menyulai peternakan ikan para petani miskin sehingga petani-petani kurang mampu yang berada di pesisir Aceh Utara itu bisa memiliki income lebih." ujarnya antusias.
Menurut Bang Aji, sterilisasi air laut bisa menggunakan bak yang dilengkapi dengan mesin pompa, seperti yang pernah ia buat di halaman belakang Mako Ditpolair Polda Sumut, Jalan TM Pahlawan, Nomor 1, Belawan, Kota Medan. Lagi-lagi ia bicara dengan bukti nyata, batinku.
Dari beberapa sumber referensi yang saya amati, ide budidaya perikanan dengan sterilisasi air laut yang digerakkan Untung Sangaji adalah sebuah inovasi baru. Belum pernah para pihak manapun di Indonesia --dalam konteks pengentasan kemiskinan warga pesisir -- melakukan inovasi ini, Untung Sangaji sudah menggerakkannya sejak ia menjabat Wakil Direktur Polisi Perairan Polda Sumut. Bahkan mungkin jauh hari sebelum ia di angkat sebagai Wadir Polair itu, otaknya sudah moncer berpikir teknologi itu sejak masa remajanya dulu.
Karena itu, bila ia 'pulang kampung' ke Aceh Utara, Bang Aji siap menerapkan teknologi sterilisasi air laut keruh menjadi daya guna. Salah satu ambisi lainya ialah ia akan menggerakkan penangkaran belangkas secara besar-besaran di bumi Pasee. Baginya dengan menggerakkan pembiaka dan peternakan belangkas, mampu mengurangi angka pengangguran di Aceh Utara yang jumlahnya terus meledak.
Apalagi, katanya, darah belangkas itu memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.
Saksikan bagaimana Bang Aji melakukan sterilisasi air laut menjadi bersih di channel istrinya:
https://www.youtube.com/watch?v=OPTh-0KBcKk
Cita-cita Mantan Kapolres Aceh Utara ini, Membangun Fasilitas Penangkaran Belangkas Secara Besar-besaran
Belangkas atau kepiting tapal kuda, merupakan salah satu hewan yang hidup dari jutaan tahun, atau seumuran era Dinosaurus. Dilihat dari cetakan fosilnya dan fisik hidupnya saat ini, makhluk ini tidak mengalami perubahan berarti sejak masa 400-250 juta tahun yang lalu. Oleh karenanya, belangkas juga sering disebut dengan fosil hidup dan masuk hewan yang dilindungi.
Belangkas masuk hewan dalam suku 'Limulidae'. Ia masuk empat jenis hewan beruas (artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah paya-paya dan kawasan mangrove. Belangkas merupakan anggota suku Limulidae dan menjadi satu-satunya wakil dari bangsa Xiphosurida yang masih eksis di bumi hingga saat ini, meski keberadaannya semakin hari makin berkurang hingga perlu dilestarikan.
Belangkas masuk hewan kepiting-kepitingan sehingga beberapa bangsa di Asia, khususnya, kerap menjadikan belangkas sebagai sumber makanan berprotein tinggi. Dagingnya yang mirip kepiting diolah untuk macam ragam menu. Telurnya yang berada dibalik perisainya pun memiliki protein sangat tinggi sehingga menjadi menu papan atas kaun ekspatriat Asia.
Namun yang paling viral adalah darah belangkas yang berwarna biru. Darah ini, menurut para ahli virus dunia, darah belangkas digunakan untuk mengetes keamanan vaksin sebelum diuji cobakan ke manusia.
Karena keberadaanya yang sudah langka namun nilai mamfaatnya yang tinggi ini pula, AKBP. Ir. Untung Sangaji, M.H, Mantan Polairud Polda Sumatera Utara, pernah membuat program pelestarian dan budidaya Belangkas pada tahun 2018-2019.
Upaya mulia itu sudah dilakukan sejak dirinya ditugaskan ke Medan, dipromosi ke Sumatera Utara setelah sebelumnya menjabat Kapolres Aceh Utara era 2018.
Polisi berpangkat perwira ini, pada awal jabatanya di Polairud Polda Sumut langsung menggebrak program unggulan. Ia pernah melepaskan 600.000 belangkas ke pantai sejak 2018 hingga juli 2019. Ia menyediakan tempat sterilisasi air untuk belangkas. Hingga hewan langka itu sudah beranak pinak .
"Belangkas memiliki banyak manfaat penting bagi manusia, salah satunya adalah darah belangkas yang mengandung tembaga, digunakan oleh industri farmasi untuk membuat Limulus Amebocyte Lysate (LAL), senyawa yang berguna untuk mendeteksi toksin yang dihasilkan oleh bakteri." jelas Polisi berbasis Insinyur ini kepada Halim El Bambi dari Myhelb Membaca Zaman.
"Saat ini, harga darah Belangkas atau Mimi Hitam sangat tinggi. Begitu bernilainya darah biru dari Belangkas ini, karena mengandung kekayaan protein dan sel amebocyte, diketahui dapat melawan bakteria yang menyerang darah kita. Bahkan para ilmuwan di Jepang telah merancang sebuah tes untuk infeksi jamur dengan darah ini." sebut mantan Kapolres Merauke, Papua ini pula.
Tempat asli habitat belangkas ini adalah pesisir Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Asia Selatan dan Amerika Utara bagian Tenggara. Di Indonesia, belangkas lebih banyak ditemui di pulau Sumatera, seperti Aceh, Jambi, Riau maupun Medan.
"Saya bercita-cita di Aceh membangun fasilitas penangkaran belangkas secara besar-besaran, yang nanti bisa menggerakkan ekonomi rakyat." harap Polisi pemberani ini menutup pembicaraan. | Halim El Bambi | Myhelb Membaca Zaman | Allrights Reserved
Tags:
Untung Sangaji

