Cita-cita Mantan Kapolres Aceh Utara ini, Membangun Fasilitas Penangkaran Belangkas Secara Besar-besaran
Oleh Halim El Bambi | Myhelb Membaca Zaman
Allrights Reserved
Belangkas atau kepiting tapal kuda, merupakan salah satu hewan yang hidup dari jutaan tahun, atau seumuran era Dinosaurus. Dilihat dari cetakan fosilnya dan fisik hidupnya saat ini, makhluk ini tidak mengalami perubahan berarti sejak masa 400-250 juta tahun yang lalu. Oleh karenanya, belangkas juga sering disebut dengan fosil hidup dan masuk hewan yang dilindungi.
Belangkas masuk hewan dalam suku 'Limulidae'. Ia masuk empat jenis hewan beruas (artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah paya-paya dan kawasan mangrove. Belangkas merupakan anggota suku Limulidae dan menjadi satu-satunya wakil dari bangsa Xiphosurida yang masih eksis di bumi hingga saat ini, meski keberadaannya semakin hari makin berkurang hingga perlu dilestarikan.
Belangkas masuk hewan kepiting-kepitingan sehingga beberapa bangsa di Asia, khususnya, kerap menjadikan belangkas sebagai sumber makanan berprotein tinggi. Dagingnya yang mirip kepiting diolah untuk macam ragam menu. Telurnya yang berada dibalik perisainya pun memiliki protein sangat tinggi sehingga menjadi menu papan atas kaun ekspatriat Asia.
Namun yang paling viral adalah darah belangkas yang berwarna biru. Darah ini, menurut para ahli virus dunia, darah belangkas digunakan untuk mengetes keamanan vaksin sebelum diuji cobakan ke manusia.
Karena keberadaanya yang sudah langka namun nilai mamfaatnya yang tinggi ini pula, AKBP. Ir. Untung Sangaji, M.H, Mantan Polairud Polda Sumatera Utara, pernah membuat program pelestarian dan budidaya Belangkas pada tahun 2018-2019.
Upaya mulia itu sudah dilakukan sejak dirinya ditugaskan ke Medan, dipromosi ke Sumatera Utara setelah sebelumnya menjabat Kapolres Aceh Utara era 2018.
Polisi berpangkat perwira ini, pada awal jabatanya di Polairud Polda Sumut langsung menggebrak program unggulan. Ia pernah melepaskan 600.000 belangkas ke pantai sejak 2018 hingga juli 2019. Ia menyediakan tempat sterilisasi air untuk belangkas. Hingga hewan langka itu sudah beranak pinak .
"Belangkas memiliki banyak manfaat penting bagi manusia, salah satunya adalah darah belangkas yang mengandung tembaga, digunakan oleh industri farmasi untuk membuat Limulus Amebocyte Lysate (LAL), senyawa yang berguna untuk mendeteksi toksin yang dihasilkan oleh bakteri." jelas Polisi berbasis Insinyur ini kepada Halim El Bambi dari Myhelb Membaca Zaman.
"Saat ini, harga darah Belangkas atau Mimi Hitam sangat tinggi. Begitu bernilainya darah biru dari Belangkas ini, karena mengandung kekayaan protein dan sel amebocyte, diketahui dapat melawan bakteria yang menyerang darah kita. Bahkan para ilmuwan di Jepang telah merancang sebuah tes untuk infeksi jamur dengan darah ini." sebut mantan Kapolres Merauke, Papua ini pula.
Tempat asli habitat belangkas ini adalah pesisir Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Asia Selatan dan Amerika Utara bagian Tenggara. Di Indonesia, belangkas lebih banyak ditemui di pulau Sumatera, seperti Aceh, Jambi, Riau maupun Medan.
"Saya bercita-cita di Aceh membangun fasilitas penangkaran belangkas secara besar-besaran, yang nanti bisa menggerakkan ekonomi rakyat." harap Polisi pemberani ini menutup pembicaraan. | Halim El Bambi | Myhelb Membaca Zaman | Allrights Reserved
