Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Gandeng Pakar Hadis UIN Ar-Raniry, MAN 1 Pidie Siap Terapkan Pembelajaran Hadis Kontekstual Bagi Siswanya

SIGLI — Kepala MAN 1 Pidie terus berinovasi menguatkan pemahaman keagamaan bagi generasi muda melalui transformasi pembelajaran Al-Hadis di madrasah pimpinanya. Menurut Muhammad Thaifuri SPd MPd, strategi pembelajaran hadis kontekstual bagi para siswa di madrasah dirancang untuk mengubah paradigma belajar siswa, dari semula sekadar hafalan tekstual menjadi implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

"Pembelajaran ini diarahkan pada pendekatan kontekstual yang ramah anak didik, interaktif, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi digital." Ujarnya kepada Halim El Bambi dari MAN 1 Pidie Online, disela-sela dirinya mempersiapkan keberangkatan Tim Robotic Mulieng pimpinanya ke Singapura mengikuti Kompetisi 'World Robotic for Peace (WRP)' yang diselenggarakan International Robotic Training and Competition (IRTC), 26 Juni 2026.

Untuk mewujudkan penguatan hadis kontekstual bagi para siswa di madrasah ini, Muhammad Thaifuri siap mendatangkan Prof. Dr. Abd. Wahid SAg MAg, sosok pakar Hadis Ahkam dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

"Ya, Insha Allah kita akan datangkan beliau ke Kampus MAN 1 Pidie usai WRP selesai diselenggarakan di Singapura." tambahnya optimis.

Dari penelusuran MAN 1 Pidie Online, Prof Dr Abd Wahid SAg MAg dikenal sebagai pakar hadis ahkam. Riset ilmiahnya kerap menekankan pentingnya strategi integratif dan urgensitas pembelajaran ilmu hadis di era digital agar relevan dengan problematika modern yang dihadapi generasi muda.

Dari beberapa risetnya, Abd Wahid menyebut, pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah, dengan hadis, siswa tidak hanya diminta menghafal hadis pendek tentang kebersihan dan menghormati orang tua lewat metode lagu Islami dan media visual. Metode menyenangkan ini terbukti efektif menanamkan karakter mulia sejak dini tanpa membebani mental anak.

Memasuki jenjang Tsanawiyah (MTs) dan Aliyah (MA), strategi pengajaran beralih ke analisis kritis. Siswa tidak hanya menghafal teks, tetapi dibimbing untuk memahami konteks sejarah (asbabun wurud) serta memilah kualitas hadis. Hal ini dinilai penting agar mereka mampu menjawab tantangan modern, seperti menyaring informasi hoaks di media sosial berdasarkan prinsip tabayun.

Selain di kelas, madrasah wajib menerapkan ekosistem "Living Hadis". Melalui konsep ini, hadis nabi langsung dipraktikkan menjadi budaya sekolah. Mulai dari gerakan menjaga kebersihan lingkungan, membudayakan senyum, hingga program literasi digital yang sehat demi menjaga akhlak siswa di madrasah.

Melalui strategi komprehensif tersebut, mata pelajaran Al-Hadis tidak lagi menjadi materi kaku di atas kertas. Madrasah dinilai sukses mentransformasikan ajaran luhur nabi menjadi panduan hidup dinamis demi mencetak generasi emas yang cerdas intelektual dan kokoh secara akhlak.| Halim El Bambi | MAN 1 Pidie Online 

Posting Komentar

0 Komentar